Website sudah memiliki desain profesional, halaman layanan lengkap, dan artikel yang rutin diperbarui, tetapi belum mendapatkan trafik organik sesuai harapan? Masalahnya belum tentu terletak pada kualitas konten atau pemilihan keyword. Bisa jadi, Google kesulitan mengakses, membaca, atau mengindeks halaman website Anda.
Di sinilah Technical SEO dibutuhkan. Optimasi ini membantu memastikan website dapat diproses dengan baik oleh mesin pencari sekaligus memberikan pengalaman yang nyaman bagi pengunjung.
Namun, tidak semua masalah SEO membutuhkan perbaikan teknis. Anda perlu mengetahui bagian mana yang bermasalah, cara memeriksanya, dan perbaikan yang harus diprioritaskan agar waktu serta biaya pengembangan website tidak terbuang.
Apa Itu Technical SEO?
Technical SEO adalah proses optimasi aspek teknis website agar mesin pencari seperti Google dapat menemukan, merayapi (crawling), memahami, dan mengindeks halaman dengan baik.
Berbeda dengan on-page SEO yang berfokus pada konten dan elemen halaman, atau off-page SEO yang berkaitan dengan sinyal dari luar website, Technical SEO menangani aspek teknis yang mendukung keduanya.
Aspek yang diperiksa mencakup akses mesin pencari, struktur URL, internal link, kecepatan halaman, kompatibilitas perangkat seluler, hingga pengaturan pengindeksan.
Menurut Google Search Central, ada tiga persyaratan teknis dasar agar sebuah halaman memenuhi syarat untuk diindeks Google:
- Googlebot tidak diblokir ketika mengakses halaman.
- Server mengembalikan kode HTTP
<span>200</span>yang menunjukkan halaman berhasil diakses. - Halaman memiliki konten yang dapat diindeks.
Memenuhi persyaratan tersebut tidak otomatis membuat halaman masuk indeks atau mendapatkan peringkat tinggi. Google tetap mempertimbangkan relevansi, kualitas, dan berbagai sinyal lainnya.
Dengan demikian, Technical SEO bukan jalan pintas untuk meningkatkan ranking, melainkan cara mengatasi hambatan teknis yang dapat mengganggu performa website di hasil pencarian.
Cara Mengetahui Masalah Technical SEO pada Website
Sebelum melakukan optimasi, periksa terlebih dahulu masalah yang dialami website. Langkah ini membantu Anda menghindari perubahan teknis yang sebenarnya tidak diperlukan.
Google Search Console merupakan salah satu alat untuk memeriksa kondisi pengindeksan. Melalui laporan Page Indexing, Anda dapat mengetahui halaman yang sudah diindeks, halaman yang belum diindeks, serta alasan yang terdeteksi oleh Google.
Setiap kondisi memerlukan pemeriksaan yang berbeda.
| Kondisi Website | Kemungkinan Masalah | Pemeriksaan Awal |
|---|---|---|
| Halaman tidak ditemukan Google | URL belum ditemukan melalui tautan atau sitemap | Periksa sitemap dan internal link |
| Discovered – currently not indexed | URL sudah ditemukan tetapi belum dirayapi | Periksa akses server dan kemudahan penemuan URL |
| Crawled – currently not indexed | Halaman sudah dirayapi tetapi belum dipilih untuk diindeks | Evaluasi kualitas, duplikasi, dan kelengkapan konten |
| Halaman terindeks tetapi trafik rendah | Relevansi konten, persaingan keyword, atau faktor SEO lainnya | Periksa query, impresi, CTR, dan posisi di Search Console |
Tidak semua status Not indexed menunjukkan kesalahan. Halaman yang sengaja dihapus, dialihkan, atau merupakan duplikat dari URL utama memang tidak selalu perlu masuk indeks Google.
Karena itu, prioritaskan pemeriksaan pada halaman yang penting bagi bisnis, seperti halaman produk, layanan, kategori utama, dan artikel yang menargetkan calon pelanggan.
Cara Optimasi Technical SEO yang Perlu Dilakukan
Optimasi Technical SEO sebaiknya dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan, bukan sekadar mengikuti daftar pengaturan yang sama untuk setiap website.
Ada beberapa aspek teknis yang perlu diperiksa beserta cara memperbaikinya.
Pastikan Google Dapat Mengakses dan Mengindeks Website
Langkah pertama adalah memastikan halaman yang ingin ditampilkan di Google tidak terhalang oleh pengaturan website.
Ada dua instruksi teknis yang sering tertukar, yaitu <span>robots.txt</span> dan <span>noindex</span>.
File <span>robots.txt</span> digunakan untuk mengatur bagian website yang boleh atau tidak boleh dirayapi mesin pencari. Sementara itu, <span>noindex</span> merupakan instruksi agar halaman tidak dimasukkan ke indeks mesin pencari yang mendukungnya.
Keduanya memiliki fungsi berbeda. Memblokir halaman melalui <span>robots.txt</span> tidak menjamin URL tersebut hilang dari Google. Jika Googlebot tidak dapat mengakses halaman, instruksi <span>noindex</span> di dalamnya juga tidak bisa dibaca.
Untuk memeriksanya, Anda dapat melakukan langkah berikut:
- Buka
<span>domainanda.com/robots.txt</span>dan periksa apakah direktori penting tidak sengaja diblokir. - Gunakan fitur URL Inspection di Google Search Console untuk memeriksa URL tertentu.
- Periksa apakah halaman penting memiliki instruksi
<span>noindex</span>. - Pastikan halaman yang seharusnya dapat diakses memberikan respons HTTP
<span>200</span>.
Pada website WordPress, perhatikan juga opsi Discourage search engines from indexing this site di Settings → Reading. Pengaturan ini dapat digunakan ketika website masih dikembangkan, tetapi berisiko menghambat pengindeksan apabila tetap aktif setelah website diluncurkan.
Optimalkan XML Sitemap dan Struktur URL
XML sitemap membantu mesin pencari menemukan URL yang tersedia di website. File ini berguna ketika website memiliki banyak halaman, konten baru, atau struktur navigasi yang cukup kompleks.
Namun, keberadaan sitemap tidak menjamin seluruh URL akan diindeks Google.
Sitemap sebaiknya memuat URL utama yang memang ingin ditampilkan dalam hasil pencarian. Hindari memasukkan URL yang sudah dialihkan, halaman error, atau halaman yang sengaja diberi instruksi <span>noindex</span>.
Selain itu, periksa konsistensi struktur URL. Misalnya, satu halaman produk dapat diakses melalui beberapa alamat karena parameter filter, variasi kategori, atau perbedaan HTTP dan HTTPS.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan duplikasi URL.
Google menggunakan proses canonicalization untuk memilih URL yang dianggap paling mewakili konten serupa. Pemilik website dapat memberikan sinyal preferensi melalui tag <span>rel="canonical"</span>, redirect, dan penggunaan URL yang konsisten.
Contohnya, jika satu produk dapat diakses melalui dua URL berbeda dengan konten yang sama, Anda dapat menentukan satu URL utama dan memastikan konfigurasi canonical, sitemap, serta internal link mengarah pada pilihan tersebut.
Perlu diingat, tag canonical merupakan sinyal preferensi, bukan perintah mutlak. Google tetap dapat memilih URL lain apabila sinyal yang diterimanya menunjukkan bahwa URL tersebut lebih sesuai.
Perbaiki Internal Link dan Navigasi Website
Internal link adalah tautan yang menghubungkan satu halaman dengan halaman lain dalam website yang sama.
Selain membantu pengunjung menemukan informasi terkait, internal link memudahkan Google menemukan URL dan memahami hubungan antarkonten.
Misalnya, website perusahaan memiliki halaman utama layanan pembuatan website dan beberapa artikel tentang proses pembuatan website, biaya, serta pemilihan platform. Artikel-artikel tersebut dapat memberikan tautan menuju halaman layanan apabila konteksnya relevan.
Dengan begitu, pengunjung memiliki jalur yang jelas untuk mendapatkan informasi lanjutan atau mempertimbangkan layanan.
Masalah muncul ketika sebuah halaman hanya bisa ditemukan melalui fitur pencarian internal, tidak terhubung dengan navigasi lain, atau menggunakan mekanisme tautan yang sulit diproses crawler.
Google menyarankan penggunaan elemen HTML <span><a></span> dengan atribut <span>href</span> agar tautan lebih mudah ditemukan dan diikuti.
Untuk memperbaiki struktur internal link, periksa apakah halaman penting dapat dijangkau melalui navigasi, halaman kategori, atau konten yang relevan. Hindari pula penggunaan teks tautan yang tidak menjelaskan halaman tujuan, seperti “klik di sini”, ketika tersedia teks yang lebih informatif.
Pastikan Website Optimal di Perangkat Seluler
Google menerapkan mobile-first indexing, yaitu penggunaan konten versi seluler sebagai dasar pengindeksan dan pemeringkatan.
Artinya, tampilan website yang responsif saja belum cukup. Informasi penting pada halaman desktop juga perlu tersedia pada versi seluler.
Sebagai contoh, sebuah website mungkin menampilkan deskripsi layanan, spesifikasi produk, dan tautan pendukung secara lengkap di desktop, tetapi menghapus sebagian informasi ketika dibuka melalui smartphone.
Jika konten tersebut tidak tersedia pada versi seluler, Google berpotensi menerima informasi yang lebih terbatas.
Periksa kesesuaian konten utama, heading, gambar, metadata, dan navigasi di kedua versi. Penggunaan tab atau accordion untuk menghemat ruang layar tetap memungkinkan selama kontennya tersedia dan dapat diakses Google.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah konten berbasis JavaScript. Google memang dapat menjalankan JavaScript, tetapi konten yang baru muncul setelah pengguna melakukan tindakan tertentu, seperti mengklik tombol, tidak selalu dapat ditemukan selama proses rendering.
Untuk website dengan banyak konten yang dimuat menggunakan JavaScript, pemeriksaan HTML hasil rendering menjadi langkah penting. Jika konten utama tidak muncul, developer mungkin perlu mengevaluasi metode rendering yang digunakan.
Tingkatkan Kecepatan dan Core Web Vitals
Kecepatan website memengaruhi kenyamanan pengunjung ketika membuka halaman, melihat informasi, atau menggunakan fitur website.
Google menggunakan Core Web Vitals untuk mengukur beberapa aspek pengalaman pengguna berdasarkan data nyata.
Terdapat tiga metrik utama yang perlu diperhatikan.
| Metrik | Apa yang Diukur | Batas Kategori Baik |
|---|---|---|
| Largest Contentful Paint (LCP) | Waktu pemuatan elemen konten terbesar yang terlihat | ≤ 2,5 detik |
| Interaction to Next Paint (INP) | Kecepatan respons halaman terhadap interaksi pengguna | ≤ 200 milidetik |
| Cumulative Layout Shift (CLS) | Kestabilan tata letak saat halaman digunakan | ≤ 0,1 |
Penilaian Core Web Vitals menggunakan persentil ke-75 dari data pengalaman pengguna yang memenuhi syarat, bukan sekadar hasil satu kali pengujian.
Anda dapat menggunakan PageSpeed Insights untuk melihat kondisi halaman dan menemukan kemungkinan penyebab masalah performa.
Beberapa perbaikan yang dapat dilakukan adalah mengompresi gambar tanpa mengorbankan kualitas yang diperlukan, menggunakan format gambar yang sesuai, mengurangi JavaScript yang tidak diperlukan, memperbaiki waktu respons server, dan mencegah elemen halaman bergeser ketika dimuat.
Sebagai contoh, website dengan gambar banner berukuran besar dapat mengalami LCP tinggi apabila gambar tersebut membutuhkan waktu lama untuk ditampilkan. Perbaikannya mungkin mencakup penyesuaian ukuran gambar, format file, cara pemuatan, atau konfigurasi server.
Meski demikian, mengejar skor PageSpeed Insights atau Lighthouse yang sempurna bukan tujuan utama Technical SEO. Perbaikan perlu mempertimbangkan pengalaman pengunjung, dampak yang terukur, dan biaya implementasi.
Periksa Redirect dan Status HTTP
Status HTTP menunjukkan bagaimana server merespons permintaan untuk membuka URL tertentu.
Beberapa status yang sering ditemukan dalam audit Technical SEO adalah:
- 200: Halaman berhasil diakses.
- 301 atau 308: URL dialihkan secara permanen.
- 404 atau 410: Halaman tidak ditemukan atau sudah tidak tersedia.
- 5xx: Server mengalami masalah ketika memproses permintaan.
Tidak semua respons selain <span>200</span> harus dianggap sebagai kesalahan.
Misalnya, apabila artikel lama sudah dihapus dan tidak memiliki pengganti yang relevan, respons <span>404</span> dapat menjadi kondisi yang benar. Sebaliknya, jika artikel tersebut sudah dipindahkan ke URL baru, redirect permanen lebih sesuai untuk membantu pengguna dan mesin pencari mencapai halaman pengganti.
Hindari mengarahkan seluruh URL yang sudah dihapus menuju homepage tanpa mempertimbangkan relevansinya.
Perhatikan juga soft 404, yaitu kondisi ketika server mengembalikan respons sukses, tetapi isi halaman sebenarnya menunjukkan bahwa konten tidak tersedia.
Masalah lain yang perlu diperiksa adalah rangkaian redirect yang terlalu panjang, redirect yang berulang tanpa akhir, serta gangguan server yang menyebabkan Googlebot kesulitan mengakses website.
Cara Menentukan Prioritas Perbaikan Technical SEO
Audit Technical SEO dapat menghasilkan puluhan bahkan ratusan temuan. Namun, tidak semua temuan memiliki dampak yang sama terhadap bisnis.
Website perusahaan dengan 50 halaman tentu memiliki kebutuhan berbeda dari marketplace dengan puluhan ribu URL produk.
Untuk menentukan prioritas, pertimbangkan empat hal: seberapa penting halaman yang terdampak, jumlah halaman yang mengalami masalah, seberapa jelas penyebabnya, dan tingkat kesulitan perbaikannya.
Sebagai contoh, bandingkan tiga kondisi berikut.
| Masalah | Pertimbangan Prioritas |
|---|---|
Halaman layanan utama tidak sengaja menggunakan <span>noindex</span> | Sangat tinggi karena menghalangi halaman bisnis penting masuk indeks |
| Template produk menghasilkan ratusan URL duplikat | Tinggi jika memengaruhi pengindeksan dan struktur website secara luas |
| Beberapa gambar pendukung berukuran sedikit lebih besar dari kebutuhan | Bergantung pada dampak nyata terhadap performa halaman |
Masalah yang memengaruhi satu template website juga perlu diperhatikan karena satu perubahan dapat memperbaiki banyak halaman sekaligus.
Sebaliknya, optimasi yang membutuhkan biaya pengembangan besar tetapi tidak menyelesaikan masalah yang nyata sebaiknya dievaluasi kembali.
Hal ini juga berlaku pada crawl budget, yaitu kapasitas dan frekuensi perayapan Google terhadap suatu website. Optimasi crawl budget tingkat lanjut umumnya lebih relevan bagi website berskala besar atau yang memiliki banyak URL dengan perubahan cepat.
Untuk website bisnis berukuran kecil hingga menengah, memastikan halaman penting dapat diakses, terhubung melalui internal link, dan memiliki konten yang layak diindeks biasanya lebih mendesak.
Tools untuk Melakukan Audit Technical SEO
Anda tidak harus langsung menggunakan tools SEO berbayar untuk mulai memeriksa kondisi teknis website.
Beberapa alat berikut dapat membantu melakukan pemeriksaan awal.
Google Search Console
Google Search Console menyediakan informasi tentang pengindeksan, performa pencarian, sitemap, serta berbagai masalah yang terdeteksi oleh Google.
Mulailah dari laporan Page Indexing untuk mengetahui kondisi URL penting. Gunakan URL Inspection ketika Anda membutuhkan informasi lebih detail mengenai satu halaman.
Data performa pencarian juga membantu membedakan masalah teknis dari persoalan relevansi keyword atau rendahnya rasio klik.
PageSpeed Insights
PageSpeed Insights dapat digunakan untuk memeriksa performa halaman di perangkat seluler maupun desktop.
Laporan ini menyediakan metrik performa dan rekomendasi teknis yang dapat menjadi bahan diskusi dengan developer.
Bedakan data pengalaman pengguna nyata dengan hasil pengujian terkontrol. Keduanya bermanfaat, tetapi tidak selalu menunjukkan angka yang sama karena kondisi pengukurannya berbeda.
Screaming Frog SEO Spider
Screaming Frog SEO Spider digunakan untuk merayapi website dan mengidentifikasi berbagai masalah teknis, seperti broken link, redirect, metadata, dan URL duplikat.
Versi gratisnya dapat digunakan untuk merayapi hingga 500 URL dalam satu pemindaian. Fitur lanjutan tertentu, termasuk JavaScript rendering, membutuhkan lisensi.
Untuk website bisnis yang belum terlalu besar, kemampuan tersebut sudah dapat membantu pemeriksaan awal terhadap struktur dan kondisi halaman.
Hasil dari ketiga tools sebaiknya diperiksa bersama. Sebuah peringatan dari crawler belum tentu menunjukkan masalah yang benar-benar memengaruhi pengindeksan atau pengalaman pengguna.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Optimasi Technical SEO
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memperlakukan audit Technical SEO sebagai daftar tugas yang seluruhnya harus diselesaikan tanpa mempertimbangkan kondisi website.
Contohnya, memaksakan semua URL masuk indeks Google. Padahal, halaman duplikat, URL redirect, dan konten yang sengaja tidak dipublikasikan untuk pencarian memang tidak selalu perlu diindeks.
Kesalahan lainnya adalah berulang kali meminta pengindeksan halaman tanpa mencari penyebabnya. Jika Google sudah merayapi halaman tetapi belum memasukkannya ke indeks, masalahnya mungkin terletak pada kualitas, duplikasi, atau kelengkapan konten, bukan frekuensi permintaan pengindeksan.
Setiap perubahan teknis juga perlu diuji setelah diterapkan. Memasang canonical, memperbaiki redirect, atau mengubah konfigurasi website tidak otomatis membuktikan bahwa Google sudah menerima dan memproses perubahan tersebut.
Gunakan URL Inspection, lakukan pemindaian ulang apabila diperlukan, dan pantau perkembangan data di Search Console.
Terakhir, hindari menghubungkan setiap penurunan trafik dengan kesalahan Technical SEO. Jika website tetap dapat dirayapi dan diindeks dengan baik, evaluasi juga relevansi konten, perubahan kebutuhan pencarian, persaingan, dan faktor lainnya.
Kesimpulan
Technical SEO membantu memastikan website memiliki fondasi teknis yang mendukung proses crawling, indexing, dan pengalaman pengguna. Optimasi ini mencakup akses mesin pencari, struktur URL, internal link, kompatibilitas seluler, performa halaman, serta penanganan error.
Mulailah dengan memeriksa kondisi website menggunakan Google Search Console, menemukan masalah yang benar-benar memengaruhi halaman penting, lalu menentukan prioritas perbaikannya.
Bagi pemilik bisnis, tujuan akhirnya bukan sekadar mendapatkan skor audit yang baik, melainkan memastikan calon pelanggan dapat menemukan dan menggunakan website dengan mudah.
Jika masalah melibatkan konfigurasi server, struktur website, atau pengindeksan dalam jumlah besar, bekerja sama dengan tim SEO dan developer dapat membantu memastikan perbaikan dilakukan tanpa menimbulkan masalah teknis baru.
Referensi
- Google Search Central – Google Search Technical Requirements
- Google Search Console Help – Page Indexing Report
- Google Search Central – Introduction to Robots.txt
- Google Search Central – What Is Canonicalization
- Google Search Central – Understand JavaScript SEO Basics
- Google Search Central – Mobile-First Indexing Best Practices
- Google Search Central – Understanding Core Web Vitals
- Screaming Frog – SEO Spider Website Crawler

