Kamu pernah melihat hasil pencarian Google (SERP) yang menampilkan harga produk, rating, atau FAQ langsung di bawah judul? Itu merupakan hasil dari penerapan schema markup. Memangnya, apa itu schema markup?
Meski sering disepelekan, schema markup bisa jadi senjata ampuh untuk membuat website kamu tampil menonjol di antara ribuan hasil pencarian lain.
Nah, artikel ini akan membahas secara lengkap, mulai dari apa itu schema markup, manfaatnya untuk SEO, cara membuat, hingga cara mengujinya, serta tools yang bisa kamu gunakan. Baca di sini untuk mengetahuinya!
Apa itu schema markup?
Schema markup atau data terstruktur adalah kode yang ditambahkan ke website untuk membantu mesin pencari seperti Google memahami konten-konten di dalamnya dengan lebih baik. Dengan kode ini, kamu bisa memberi konteks pada kontenmu, baik artikel, produk, review, event, dan sebagainya.
Kalau kamu pernah melihat hasil pencarian Google yang menampilkan harga produk, rating, FAQ, atau tanggal acara langsung di bawah judul, itulah hasil dari schema markup. Tampilan ini disebut rich snippets dan merupakan hasil dari struktur data yang berhasil diinterpretasikan oleh Google.

Berbeda dengan metadata seperti meta title dan meta description, data terstruktur memberikan informasi tambahan yang lebih spesifik dan terstruktur. Data ini ditulis dalam format khusus, umumnya menggunakan JSON-LD, dan ditempatkan di halaman HTML website.
Manfaat schema markup untuk SEO
Kamu sudah memahami apa itu schema markup. Lalu, apa manfaatnya untuk SEO? Meski secara langsung tidak menjamin peringkat yang lebih tinggi di hasil pencarian Google, data terstruktur ini bisa memberikan banyak manfaat signifikan dalam SEO, yaitu seperti berikut:
1. Membantu Google memahami isi konten: Schema markup memberikan struktur dan konteks yang jelas bagi Google, sehingga bisa menampilkan hasil yang lebih akurat untuk pengguna.
2. Meningkatkan visibilitas di SERP: Google bisa menampilkan informasi tambahan langsung di hasil pencarian, sehingga membuat website kamu lebih menarik dan informatif dibanding yang lain.
3. Meningkatkan CTR: Karena tampilannya lebih mencolok dan informatif, pengguna cenderung lebih tertarik untuk klik konten yang memiliki rich snippets.
4. Keunggulan untuk bersaing: Banyak website yang belum menerapkan schema markup, sehingga menjadi peluang untuk membuat website kamu lebih menonjol di tengah persaingan.
Jenis-jenis schema markup
Berikut beberapa jenis schema markup yang sering digunakan dalam berbagai jenis website:
1. Artikel: Cocok untuk media online agar Google bisa menampilkan informasi seperti penulis, tanggal publikasi, dan gambar utama.
2. Produk: Cocok untuk toko online agar bisa menampilkan harga, stok, dan ulasan produk.
3. Rating dan review: Cocok untuk kamu yang menawarkan produk atau layanan agar bisa menampilkan bintang dan ulasan dari pengguna.
4. FAQ: Kamu bisa menampilkan pertanyaan dan jawaban yang sering ditanyakan tentang produk atau layanan yang kamu tawarkan.
5. Acara atau event: Kalau kamu sering mengadakan acara, kamu bisa menampilkan informasi seperti waktu, lokasi, dan tiket.
6. Organisasi atau bisnis lokal: Kalau kamu punya kantor atau toko offline, kamu bisa menampilkan informasi seperti nama, logo, lokasi, dan jam operasional.
7. Breadcrumb: Kamu bisa menampilkan struktur navigasi halaman untuk membantu pengguna dan Google memahami hierarki website.
Cara membuat schema markup
Setelah mengetahui apa itu schema markup dan manfaatnya, mungkin sekarang kamu tertarik untuk membuatnya. Lalu, bagaimana cara membuat schema markup? Data terstruktur bisa kamu buat secara manual ataupun menggunakan tools.
Membuat schema markup menggunakan cara manual (JSON-LD)
JSON-LD (JavaScript Object Notation for Linked Data) adalah format yang menggunakan struktur JSON. Google merekomendasikan cara manual dengan menggunakan format JSON-LD karena lebih fleksibel dan mudah dikelola.
Selain itu, format ini juga mudah dibaca, dipahami, dan ditambahkan ke dalam HTML tanpa memengaruhi tampilan halaman pada website.
Namun, untuk membuat schema markup menggunakan cara manual, kamu butuh keahlian menulis kode dalam bentuk Javascript.
Membuat schema markup menggunakan tools
Nah, jika kamu tidak terbiasa menulis kode dalam bentuk Javascript, kamu bisa membuat schema markup menggunakan beberapa tools berikut:
1. Google Structured Data Markup Helper
Langkah-langkah:
– Pilih jenis data (Articles, Product, Event, dll).
– Masukkan URL atau HTML.
– Kemudian, Google akan menampilkan tampilan halaman. Klik elemen (seperti judul, nama penulis, gambar), lalu tandai jenis datanya.
– Setelah selesai menandai, klik tombol โCreate HTMLโ.
– Kamu akan melihat kode HTML dengan tambahan schema (biasanya dalam format microdata), tetapi kamu juga bisa mengkonversinya ke JSON-LD secara manual jika perlu.
– Setelah itu, tempelkan schema markup yang dihasilkan ke HTML halamanmu.
2. Merkle Schema Markup Generator
Langkah-langkah:
– Pilih jenis schema dari pilihan yang tersedia (Article, Product, FAQ, dll).
– Isi informasi, seperti judul, deskripsi, nama penulis, gambar, tanggal, dsb.
– Setelah itu, kode JSON-LD akan langsung muncul di sisi kanan layar.
– Salin dan tempelkan kode tersebut ke bagian <head> atau sebelum </body> di HTML website.
3. Plugin WordPress: Rank Math atau Yoast SEO
Jika kamu menggunakan CMS WordPress, kamu bisa menggunakan plugin Rank Math atau Yoast SEO.
Rank Math:
– Install plugin Rank Math melalui dashboard WordPress.
– Saat membuat atau mengedit artikel, masuk keโSchemaโ di bagian bawah.
– Klik โEdit Schemaโ, lalu pilih jenis schema seperti Article, Product, FAQ, dll.
– Isi informasi yang diminta (judul, penulis, tanggal, dll).
– Kemudian, simpan dan unggah artikel.
Yoast SEO:
Sementara itu, Yoast SEO biasanya otomatis menyisipkan schema Article dan Breadcrumb. Kamu juga bisa menambahkan schema FAQ jika menggunakan versi premiumnya.
Cara mengecek dan menguji schema markup
Setelah membuat dan memasang schema markup, kamu harus mengecek dan menguji apakah data sudah valid dan bisa terbaca oleh Google, apakah ada warning atau error, dan apakah strutur data sudah sesuai dengan jenis konten.
Berikut tools yang bisa kamu gunakan:
1. Google Rich Results Test: Website resmi dari Google untuk melihat apakah halamanmu memenuhi syarat tampil sebagai rich result.
2. Schema Markup Validator: Website alternatif untuk mengecek struktur dan pengaplikasian schema.
Jika ada data yang error, kamu dapat memperbaikinya terlebih dahulu sebelum halaman dipublikasikan. Hal ini penting karena kesalahan kecil bisa membuat schema markup malah tidak berfungsi sama sekali.
Kesimpulan
Itulah penjelasan tentang apa itu schema markup, manfaatnya untuk SEO, jenis-jenisnya, cara membuat schema markup secara manual maupun menggunakan tools, hingga cara mengecek dan mengujinya.
Schema markup adalah salah satu cara paling praktis untuk membuat website kamu tampil menonjol di hasil pencarian Google. Dengan menambahkan data terstruktur, kamu akan membantu Google memahami isi kontenmu, sekaligus meningkatkan user experience.
Selain itu, schema markup juga bisa meningkatkan visibilitas website kamu di SERP, meningkatkan CTR, dan keunggulan untu bersaing dengan website lain.
Jadi, mulailah dari jenis schema yang paling relevan dengan konten kamu, seperti artikel, produk, atau review, FAQ, lalu perlahan pelajari dan tambahkan schema markup lainnya.
Memahami dan menerapkan schema markup dengan benar adalah kunci untuk menonjol di Google. Agar situs Anda lebih unggul di hasil pencarian, implementasi teknis seperti ini merupakan bagian krusial dari jasa SEO kami.
Kami juga memastikan setiap situs yang dibuat melalui jasa pembuatan website kami sudah terstruktur dengan baik sejak awal untuk performa maksimal.
