Table of Content

    Tips Membuat Slogan Bisnis yang Mudah Diingat Pelanggan

    Slogan bisnis yang bagus harus mampu menyampaikan pesan yang jelas, mudah dikenali, dan membantu pelanggan mengingat bisnis Anda saat membutuhkan produk atau layanan yang ditawarkan.

    Sayangnya, masih banyak slogan yang menggunakan kalimat umum seperti “Kualitas Terbaik”, “Solusi Terpercaya”, atau “Melayani dengan Sepenuh Hati”. Kalimat tersebut terdengar positif, tetapi bisa digunakan oleh hampir semua bisnis sehingga sulit membedakan satu merek dari pesaingnya.

    Lalu, bagaimana cara membuat slogan bisnis yang mudah diingat pelanggan? Anda perlu menemukan pesan yang relevan dengan kebutuhan pelanggan, menyampaikannya melalui pilihan kata yang tepat, dan menguji apakah slogan tersebut benar-benar membuat orang mengingat merek Anda.

    Apa yang Membuat Slogan Bisnis Mudah Diingat?

    Slogan adalah kalimat atau frasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan utama suatu bisnis, produk, atau kampanye pemasaran. Slogan membantu memperkuat identitas merek sekaligus memberikan alasan kepada pelanggan untuk mengenal atau memilihnya.

    Dalam pemasaran, istilah slogan dan tagline sering digunakan bergantian. Namun, tagline umumnya menjadi bagian dari identitas merek jangka panjang, sedangkan slogan juga dapat dibuat khusus untuk kampanye tertentu.

    Slogan yang mudah diingat tidak harus selalu pendek. Penelitian Hodges, Estes, dan Warren dalam Journal of Consumer Research (2024), yang menganalisis lebih dari 800 slogan merek, menemukan bahwa karakteristik slogan yang disukai konsumen tidak selalu sama dengan slogan yang mudah mereka ingat.

    Slogan pendek dengan kata-kata umum cenderung lebih disukai karena mudah dipahami. Sebaliknya, slogan yang lebih panjang, menggunakan kata konkret atau tidak biasa, serta menyebutkan nama merek justru lebih mudah diingat dalam pengujian tersebut.

    Artinya, Anda tidak perlu memaksakan slogan menjadi dua atau tiga kata. Yang lebih penting adalah membuat kalimat yang mudah dipahami, memiliki ciri khas, dan membantu pelanggan mengingat bisnis Anda.

    Cara Membuat Slogan Bisnis yang Menarik dan Mudah Diingat

    Pembuatan slogan sebaiknya dimulai dengan memahami bisnis dan kebutuhan pelanggan, bukan langsung mencari rangkaian kata yang terdengar kreatif.

    Ada beberapa langkah yang dapat Anda ikuti untuk menyusun dan memilih slogan yang sesuai dengan identitas bisnis.

    1. Tentukan Pesan Utama yang Ingin Disampaikan

    Sebelum menulis slogan, tentukan satu hal yang paling ingin Anda tanamkan dalam ingatan pelanggan. Pesan tersebut bisa berupa manfaat produk, karakter bisnis, pengalaman pelanggan, atau situasi ketika produk digunakan.

    Misalnya, bisnis laundry dapat menonjolkan kemudahan layanan, kerapian pakaian, atau ketepatan waktu pengerjaan. Ketiga manfaat tersebut dapat menghasilkan slogan dengan pesan yang berbeda.

    Untuk menentukan fokusnya, pertimbangkan tiga pertanyaan berikut:

    • Apa alasan utama pelanggan memilih produk atau layanan Anda?
    • Manfaat apa yang paling relevan dengan kebutuhan mereka?
    • Apa yang membedakan bisnis Anda dari pesaing?

    Anda tidak perlu memasukkan semua keunggulan bisnis ke dalam satu slogan. Terlalu banyak pesan justru membuat kalimat sulit dipahami dan kehilangan fokus.

    Pilih satu manfaat yang sesuai dengan posisi bisnis Anda. Pastikan pula manfaat tersebut benar-benar dapat diberikan, bukan sekadar janji yang terdengar menarik.

    2. Gunakan Bahasa yang Dekat dengan Pelanggan

    Pilihan kata dalam slogan sebaiknya mengikuti cara pelanggan memahami dan membicarakan kebutuhan mereka.

    Jika target pelanggan Anda adalah pemilik UMKM, bahasa yang sederhana dan langsung biasanya lebih mudah dipahami daripada istilah bisnis yang terlalu teknis. Sebaliknya, layanan untuk perusahaan dapat menggunakan istilah industri tertentu jika memang akrab bagi calon pelanggannya.

    Perhatikan juga situasi ketika pelanggan membutuhkan produk Anda.

    Sebagai contoh, Matari Advertising menjelaskan bahwa slogan Tehbotol Sosro, “Apapun Makanannya, Minumnya Tehbotol Sosro”, dikembangkan dari kebiasaan masyarakat Indonesia mengonsumsi teh ketika makan.

    Slogan tersebut menghubungkan produk dengan aktivitas sehari-hari yang mudah dikenali pelanggan. Nama merek juga menjadi bagian dari kalimatnya.

    Cara serupa dapat diterapkan pada bisnis lain. Daripada hanya menyebutkan kualitas produk, carilah kebiasaan atau kebutuhan pelanggan yang dapat menjadi dasar pesan slogan.

    3. Pilih Kata yang Spesifik dan Mudah Dibayangkan

    Kalimat yang terlalu umum sering kali sulit dibedakan dari slogan milik bisnis lain.

    Penelitian Aka dan McCoy dalam Journal of Marketing Research (2026), yang menganalisis 929 slogan merek, menemukan bahwa penggunaan kata konkret dan kesesuaian slogan dengan merek termasuk faktor penting dalam memprediksi kemampuan konsumen mengenali slogan.

    Untuk melihat perbedaannya, perhatikan ilustrasi slogan bisnis laundry berikut.

    Contoh SloganKesan yang Disampaikan
    Solusi Terbaik untuk Cucian AndaTerlalu umum dan tidak menunjukkan keunggulan tertentu
    Pakaian Bersih dan Rapi Setiap HariMenyampaikan manfaat, tetapi masih cukup umum
    Seragam Bersih Sebelum SeninMenggambarkan kebutuhan dan waktu penggunaan yang spesifik

    Contoh terakhir lebih mudah dikaitkan dengan situasi tertentu, yaitu kebutuhan pakaian kerja yang sudah bersih sebelum memulai minggu baru.

    Namun, kalimat tersebut juga mengandung janji waktu penyelesaian. Bisnis sebaiknya hanya menggunakannya jika memang mampu memenuhi janji tersebut secara konsisten.

    Tujuannya bukan membuat slogan sespesifik mungkin, melainkan memilih kata yang membantu pelanggan memahami manfaat atau pengalaman yang ditawarkan.

    4. Buat Beberapa Alternatif Slogan

    Jangan langsung menetapkan kalimat pertama yang terasa menarik. Buat beberapa alternatif berdasarkan pesan utama yang sudah dipilih.

    Anda dapat mencoba pendekatan yang berbeda, misalnya menekankan manfaat langsung, menggambarkan situasi penggunaan, atau menunjukkan karakter merek.

    Untuk satu bisnis, Anda juga bisa membuat beberapa slogan dengan pesan yang sama tetapi susunan kata berbeda. Bandingkan apakah setiap kalimat mudah diucapkan, mudah dimengerti, dan terdengar alami.

    Rima, humor, atau permainan kata boleh digunakan selama tidak membuat pesan menjadi sulit dipahami. Penelitian Kohli, Thomas, dan Suri (2013) terhadap 150 slogan dan 220 responden tidak menemukan pengaruh rima maupun jingle terhadap kemampuan mengingat slogan dalam pengujian mereka.

    Dengan demikian, slogan tidak harus berima agar mudah diingat. Kalimat sederhana yang relevan dengan bisnis bisa lebih berguna daripada permainan kata yang menarik tetapi membingungkan.

    Anda juga dapat menggunakan generator slogan atau AI untuk mencari variasi ide. Namun, hasilnya tetap perlu diseleksi karena kalimat yang terdengar bagus belum tentu unik, sesuai dengan identitas bisnis, atau dapat dipertanggungjawabkan.

    5. Pastikan Slogan Memiliki Hubungan yang Jelas dengan Merek

    Slogan yang diingat pelanggan belum tentu membuat mereka mengingat bisnis yang menggunakannya.

    Sebagai contoh, seseorang mungkin mengingat kalimat promosi yang lucu, tetapi tidak mengetahui apakah kalimat tersebut berasal dari merek makanan, minuman, atau layanan tertentu.

    Penelitian Aka dan McCoy (2026) menemukan bahwa kesesuaian antara slogan dan identitas merek menjadi salah satu prediktor terkuat kemampuan responden mengingat merek berdasarkan petunjuk slogan.

    Karena itu, periksa apakah slogan Anda sudah menggambarkan produk, manfaat, atau karakter bisnis yang ingin dikenal pelanggan.

    Mencantumkan nama merek juga dapat dipertimbangkan, terutama jika bisnis masih membangun pengenalan mereknya. Namun, jangan memaksakannya apabila nama tersebut membuat kalimat menjadi terlalu panjang atau terdengar tidak alami.

    Slogan yang baik membantu pelanggan menghubungkan pesan dengan bisnis yang tepat, bukan sekadar mengingat rangkaian katanya.

    6. Pilih Slogan yang Sesuai untuk Penggunaan Jangka Panjang

    Sebelum menentukan slogan akhir, pertimbangkan apakah pesannya masih relevan ketika bisnis berkembang.

    Slogan yang terlalu bergantung pada satu produk, harga promosi, atau kondisi sementara mungkin lebih cocok digunakan untuk kampanye pemasaran daripada identitas merek utama.

    Sebagai contoh, jika bisnis Anda berencana memperluas layanan, pertimbangkan apakah slogan yang terlalu spesifik pada layanan awal akan membatasi cara pelanggan memahami bisnis tersebut di kemudian hari.

    Namun, bukan berarti semua slogan harus dibuat luas dan abstrak. Pesan yang spesifik tetap berguna jika memang sesuai dengan posisi bisnis yang ingin dipertahankan.

    Pilih kalimat yang cukup jelas untuk membedakan merek Anda saat ini, tetapi tetap sesuai dengan rencana perkembangan bisnis.

    Contoh Slogan Bisnis yang Bisa Dijadikan Inspirasi

    Melihat slogan dari merek terkenal dapat membantu Anda memahami bagaimana sebuah pesan dikaitkan dengan produk atau karakter bisnis.

    Salah satu contoh dari Indonesia adalah slogan “Apapun Makanannya, Minumnya Tehbotol Sosro”.

    Slogan tersebut tidak hanya menyampaikan bahwa perusahaan menjual minuman teh. Pesannya menghubungkan Tehbotol Sosro dengan kebiasaan makan, sehingga pelanggan memiliki gambaran yang jelas tentang kapan produk tersebut dikonsumsi.

    Contoh lain adalah “Just Do It” dari Nike. Kalimat ini singkat dan mengajak orang untuk bertindak, sesuai dengan identitas merek yang dibangun melalui aktivitas olahraga dan dorongan untuk bergerak.

    Sementara itu, “Think Different” dari Apple menggunakan pesan tentang cara berpikir yang berbeda. Kalimat tersebut lebih menonjolkan karakter merek daripada menjelaskan fungsi produk secara langsung.

    Ketiga contoh tersebut menunjukkan bahwa slogan dapat menggunakan pendekatan yang berbeda. Ada yang menonjolkan situasi konsumsi, mengajak pelanggan melakukan sesuatu, atau memperkuat karakter merek.

    Namun, keberhasilan slogan dari perusahaan besar juga dipengaruhi oleh promosi, distribusi, pengalaman produk, dan penggunaan identitas merek yang konsisten. Mengikuti pola kalimat merek terkenal tidak otomatis memberikan hasil serupa bagi bisnis baru.

    Gunakan contoh-contoh tersebut untuk memahami cara sebuah pesan dibangun, bukan untuk menyalin gaya atau sekadar mengganti beberapa katanya.

    Cara Menguji Apakah Slogan Mudah Diingat Pelanggan

    Setelah menemukan beberapa kandidat, langkah berikutnya adalah menguji apakah orang lain memahami dan mengingat pesan tersebut.

    Penilaian dari pemilik bisnis atau tim internal saja belum cukup. Mereka sudah mengetahui produk dan tujuan bisnis, sehingga mungkin lebih mudah memahami slogan dibandingkan calon pelanggan yang baru pertama kali melihatnya.

    Cobalah meminta masukan dari beberapa orang yang sesuai dengan target pasar Anda.

    Pengujian sederhana dapat dilakukan dengan cara berikut:

    1. Tampilkan beberapa kandidat slogan. Berikan waktu membaca yang sama untuk setiap kalimat tanpa menjelaskan maknanya terlebih dahulu.
    2. Tanyakan kesan pertama. Cari tahu produk, manfaat, atau karakter bisnis apa yang mereka tangkap dari slogan.
    3. Uji daya ingat setelah jeda. Setelah responden melakukan aktivitas lain, minta mereka menyebutkan kembali slogan yang masih mereka ingat.
    4. Periksa hubungan dengan merek. Tanyakan merek atau jenis bisnis yang mereka kaitkan dengan kalimat tersebut.
    5. Bandingkan hasilnya. Perhatikan slogan mana yang paling jelas, mudah dikenali, dan tidak menimbulkan pemahaman keliru.

    Dalam pengujian ini, Anda perlu membedakan kemampuan mengingat kalimat slogan dengan kemampuan mengingat merek.

    Slogan yang paling disukai responden belum tentu menjadi pilihan terbaik jika mereka tidak dapat menghubungkannya dengan bisnis Anda.

    Pengujian dengan kelompok kecil dapat membantu menemukan masalah awal. Namun, hasilnya belum tentu mewakili seluruh target pasar, sehingga sebaiknya digunakan bersama pertimbangan identitas merek dan kebutuhan pelanggan.

    Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Membuat Slogan

    Salah satu kesalahan umum dalam pembuatan slogan adalah terlalu berfokus pada keindahan kalimat tanpa mempertimbangkan pesan yang disampaikan.

    Slogan seperti “Pilihan Terbaik untuk Semua” mungkin terdengar positif, tetapi tidak menjelaskan alasan pelanggan perlu mengingat bisnis tertentu.

    Ada beberapa kesalahan lain yang perlu diperhatikan.

    Terlalu banyak memasukkan manfaat. Slogan yang mencoba menjelaskan harga, kualitas, kecepatan, dan pelayanan sekaligus biasanya kehilangan fokus. Pilih satu pesan utama, sedangkan manfaat lainnya dapat dijelaskan dalam materi pemasaran.

    Menggunakan kata yang tidak familiar. Istilah asing atau permainan kata yang rumit bisa membuat slogan sulit dipahami. Pilih bahasa yang sesuai dengan kebiasaan target pelanggan, bukan sekadar terdengar kreatif.

    Membuat klaim berlebihan. Ungkapan seperti “Paling Berkualitas” atau “Nomor Satu” dapat menimbulkan persoalan jika tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebaiknya gunakan manfaat yang jelas dan sesuai dengan kemampuan bisnis.

    Sering mengganti slogan. Pelanggan membutuhkan kesempatan untuk mengenali hubungan antara slogan dan merek melalui penggunaan yang konsisten.

    Penelitian System1 bersama Institute of Practitioners in Advertising (2024), yang menganalisis lebih dari 4.000 iklan dari 56 merek, menemukan hubungan antara konsistensi kreatif dengan kekuatan merek dan hasil bisnis.

    Penelitian tersebut menilai berbagai unsur komunikasi merek, bukan slogan secara terpisah. Meski demikian, temuannya mendukung perlunya konsistensi dalam menggunakan identitas dan pesan pemasaran.

    Karena itu, jangan terburu-buru mengganti slogan hanya karena menemukan susunan kata baru yang terasa lebih menarik.

    Periksa Keunikan Slogan Sebelum Digunakan

    Sebelum memasang slogan pada website, kemasan, papan toko, atau materi promosi, periksa apakah kalimat tersebut sudah digunakan oleh bisnis lain.

    Anda dapat melakukan pencarian melalui Google, marketplace, dan media sosial untuk menemukan penggunaan slogan yang sama atau memiliki kemiripan.

    Jika slogan akan menjadi bagian penting dari identitas bisnis, lakukan pula penelusuran awal melalui Pangkalan Data Kekayaan Intelektual (PDKI).

    Menurut Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), merek dapat tidak diterima pendaftarannya apabila tidak memiliki daya pembeda, mengandung unsur menyesatkan, atau hanya mendeskripsikan barang dan jasa tertentu. Permohonan juga dapat ditolak apabila memiliki persamaan dengan merek pihak lain yang lebih dahulu terdaftar untuk barang atau jasa sejenis.

    Tidak semua slogan otomatis bisa didaftarkan sebagai merek. Hasil penelusuran yang tidak menemukan slogan serupa juga bukan jaminan bahwa slogan tersebut pasti aman secara hukum.

    Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan sebelum bisnis mengeluarkan biaya untuk mencetak kemasan, membuat materi promosi, atau mengubah identitas visual secara luas.

    Gunakan Slogan Secara Konsisten dalam Branding Bisnis

    Slogan yang sudah dipilih perlu didukung oleh identitas merek dan pengalaman pelanggan yang sesuai.

    Anda dapat menempatkannya pada website, profil bisnis, materi promosi, kemasan, atau media komunikasi lain yang relevan. Pastikan penggunaannya tidak mengganggu informasi utama yang dibutuhkan pelanggan.

    Kantar menjelaskan bahwa efektivitas slogan dalam membantu pengenalan merek juga bergantung pada faktor lain, termasuk penggunaan nama merek dan pengulangan yang konsisten dalam iklan.

    Artinya, memiliki slogan saja tidak cukup. Desain visual, komunikasi pemasaran, kualitas layanan, dan pengalaman pelanggan tetap harus mendukung pesan yang ingin disampaikan.

    Sebagai contoh, apabila bisnis menggunakan slogan yang menonjolkan kemudahan layanan, proses pemesanan yang dialami pelanggan sebaiknya juga mudah.

    Dengan begitu, slogan menjadi bagian dari strategi branding yang didukung oleh pengalaman pelanggan, bukan sekadar kalimat tambahan di bawah logo.

    Kesimpulan

    Cara membuat slogan bisnis yang mudah diingat pelanggan dimulai dengan menentukan pesan utama, memahami kebutuhan pelanggan, memilih kata yang jelas, dan mengembangkan beberapa alternatif sebelum menentukan pilihan.

    Jangan hanya menilai slogan dari panjang kalimat, rima, atau kesan menarik saat pertama dibaca. Periksa juga apakah pelanggan memahami pesannya, mengingatnya setelah beberapa waktu, dan mampu menghubungkannya dengan bisnis Anda.

    Slogan yang tepat harus mudah diingat, sesuai dengan identitas bisnis, dan didukung oleh pengalaman nyata yang diberikan kepada pelanggan.

    Referensi

    RELATED POST

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *