Klien sering bertanya kepada kami mengenai pilihan saluran penjualan utama: fokus pada Marketplace yang memiliki trafik tinggi, atau membangun website sendiri untuk menjaga margin keuntungan.
Pertanyaan ini sangat relevan mengingat tren kenaikan biaya admin marketplace yang terjadi serentak belakangan ini. Biaya layanan yang sebelumnya rendah kini meningkat dan mulai mempengaruhi profit bersih secara signifikan.
Jawaban yang tepat sangat bergantung pada model bisnis, fase pertumbuhan Brand, dan kekuatan modal yang kamu miliki.
Berikut adalah perbandingan mendalam menggunakan logika bisnis, data tren biaya terbaru, dan perhitungan nyata di lapangan.
Marketplace: Volume Tinggi, Tapi Ada “Biaya Tersembunyi”
Berjualan di marketplace (seperti Shopee, Tokopedia, TikTok Shop) berarti menumpang pada platform pihak ketiga. Keuntungan utamanya jelas: akses instan ke trafik dan kepercayaan konsumen. Namun, kenyamanan ini dibayar dengan struktur biaya yang berlapis dan cenderung naik setiap tahun.
1. Tren Kenaikan Biaya (Realita Lapangan) Biaya marketplace bukan lagi sekadar potongan kecil. Data menunjukkan tren kenaikan yang konsisten:
- Tokopedia: Mengalami penyesuaian biaya layanan per Mei 2024 (2%-6.5%), kemudian naik lagi per September 2024 menjadi 1%-10% tergantung kategori.
- Shopee: Mulai Juli 2025, menerapkan Biaya Proses Pesanan sebesar Rp1.250 per transaksi (flat) di luar persentase komisi. Ini sangat berdampak bagi penjual dengan harga produk rendah.
- TikTok Shop: Efektif Juni 2025, menerapkan skema komisi dinamis (4%-6%) dengan batas maksimum per item.
2. Jebakan “Diskon Event” Ini adalah biaya yang sering tidak disadari. Saat mengikuti campaign besar (seperti 9.9 atau 12.12), penjual seringkali “diwajibkan” memberikan diskon toko atau voucher. Masalahnya: Di beberapa platform, biaya layanan dihitung dari harga setelah diskon penjual. Artinya, margin kamu tergerus dua kali: pertama oleh diskon yang kamu berikan, kedua oleh potongan admin yang tetap berjalan.
3. Biaya Tersembunyi Lainnya
- Iklan Platform (Ads): Di kategori kompetitif, iklan seringkali menjadi “pajak wajib” agar produk tidak tenggelam.
- Affiliate Fee: Terutama di TikTok Shop, semakin tinggi eksposur, semakin besar kemungkinan kamu harus membagi komisi dengan kreator.
- Retur & Denda: Risiko biaya ongkir balik atau penalti performa toko.
Website Sendiri: Kontrol Margin, Tapi Kamu “Membayar Mesin”
Memiliki website sendiri memberikan kebebasan penuh atas data pelanggan dan margin, namun memindahkan beban biaya dari “sewa lapak” menjadi “biaya operasional”.
1. Biaya Infrastruktur (Fixed Cost) Biaya ini relatif stabil namun tetap ada penyesuaian:
- Domain: Harga domain lokal (.id) mengalami penyesuaian harga berkala oleh pengelola (PANDI), namun kenaikannya biasanya lebih lambat dibandingkan fee marketplace.
- Platform: Biaya langganan bulanan jika menggunakan SaaS (seperti Shopify) atau biaya maintenance teknis (hosting, plugin) jika menggunakan WooCommerce.
2. Biaya Transaksi (Variable Cost) Biaya ini jauh lebih rendah dibanding marketplace:
- Virtual Account: Sekitar Rp4.000 per transaksi (flat).
- QRIS: Sekitar 0.7%.
- Kartu Kredit: Sekitar 2.9% + biaya tetap.
3. Tantangan Terbesar: Biaya Trafik (CAC) Di website, trafik tidak datang sendiri. Kamu harus “membeli” pengunjung melalui iklan (Meta/Google Ads), SEO, atau kolaborasi influencer. Kunci keuntungan website ada di Repeat Order. Jika kamu terus-menerus membayar iklan untuk setiap penjualan, website bisa jadi lebih mahal. Namun, jika kamu bisa membuat pelanggan beli lagi tanpa iklan (lewat WhatsApp/Email), profitabilitas website akan jauh melampaui marketplace.

Simulasi Perhitungan Profit
Berikut tabel simulasi perbandingan profit per pesanan.
Asumsi Dasar:
- Harga Jual: Rp200.000
- HPP: Rp100.000
- Margin Kotor Awal: Rp100.000
| Komponen Biaya | Marketplace | Website (Pembeli Baru) | Website (Repeat Order) |
|---|---|---|---|
| Margin Kotor | Rp100.000 | Rp100.000 | Rp100.000 |
| Biaya Admin & Layanan | (Rp30.000) $$\~15%$$ | Rp0 | Rp0 |
| Biaya Iklan (CAC) | Termasuk/Rendah | (Rp50.000) | Rp0 |
| Payment Gateway | Termasuk | (Rp5.000) | (Rp5.000) |
| Total Biaya Saluran | (Rp30.000) | (Rp55.000) | (Rp5.000) |
| PROFIT BERSIH | Rp70.000 | Rp45.000 | Rp95.000 |
Analisis: Marketplace menang di awal (volume & akuisisi mudah), tapi Website menang telak di jangka panjang (retensi & loyalitas).
Bukti Lapangan: Strategi Brand di Indonesia
Jika kita melihat pola pergerakan brand lokal maupun besar di Indonesia, mayoritas tidak memilih salah satu, melainkan menerapkan strategi Hybrid (Omnichannel).
Contoh Kasus:
- Erigo & Somethinc: Kedua brand ini sangat agresif di marketplace (mendominasi live shopping dan event tanggal kembar), namun tetap merawat Official Website mereka. Marketplace digunakan untuk mengejar volume penjualan masif, sementara website digunakan untuk koleksi eksklusif atau bundle khusus.
- IKEA Indonesia & Executive: Brand mapan ini juga menggunakan pendekatan sama. Mereka membuka Official Shop di Tokopedia/Shopee untuk menjangkau pasar luas, tapi tetap mengarahkan pelanggan ke website/aplikasi sendiri untuk pengalaman belanja yang lebih lengkap dan program membership.
- UMKM (Contoh: Djoeragan Rempah, Tem.peh): Bahkan pemain skala UMKM pun mulai mencantumkan link lengkap di bio mereka: Shopee, Tokopedia, dan Website Resmi. Ini membuktikan kesadaran untuk tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang.

Kesimpulan: Cara Menentukan Pilihan
Gunakan rumus sederhana ini untuk memutuskan fokus bisnismu:
- Pilih Marketplace Jika:
- Kamu butuh cashflow cepat dan produkmu baru.
- Produkmu sangat sensitif harga dan marginmu masih aman meski dipotong biaya admin 10-15%.
- Kamu belum memiliki tim atau kemampuan untuk menjalankan iklan mandiri dan customer relationship management (CRM).
- Pilih Website Jika:
- Produkmu memiliki potensi repeat order tinggi (skincare, makanan, kebutuhan harian).
- Kamu ingin “mengunci” pelanggan lewat membership atau poin loyalitas.
- Kamu ingin mengamankan margin dari risiko kenaikan biaya marketplace yang tidak terduga di masa depan.
Saran Terbaik: Mulailah di Marketplace untuk membangun nama dan basis pelanggan. Setelah stabil, bangun Website untuk menampung pelanggan setia dan meningkatkan profitabilitas jangka panjang.
Penasaran Berapa Modal Bikin Website?
Seringkali pemilik bisnis takut membuat website karena bayangan biaya yang mahal. Padahal, biayanya bisa disesuaikan dengan kebutuhan, apakah itu sekadar Landing Page sederhana atau E-Commerce dengan sistem pembayaran lengkap.
Supaya kamu tidak menebak-nebak, kami menyediakan alat bantu gratis untuk menghitung estimasi biaya pembuatan website secara instan.